TRILIUNAN DANA OTSUS PAPUA DALAM PENINGKATAN SDM TENAGA DOKTER OAP DIPERTANYAKAN.

Foto: Pelantikan Dokter umum angkatan XXXII Universitas Cenderawasih.

Papua : Kucuran dana Otonomi khusus untuk Papua dan Papua Barat tentu jumlahnya sangat besar yang sering diperbincangkan di Papua. Dana tersebut dianggap besar dan disoroti oleh berbagai pihak bahkan dari pusat.

Tentu adanya Kucuran dana Otsus yang besar itu dimanfaatkan dengan baik oleh pemerintah Provinsi Papua dan Papua Barat dalam mengejar ketertinggalannya dari daerah lainnya di Indonesia. Dari sektor ekonomi , Infrastruktur, Peningkatan SDM dan Pengelolaan SDA yang ada di Bumi cendrawasih.

Menteri Keuangan Sri Mulyani memaparkan penyaluran dana otonomi khusus (otsus) dan dana tambahan infrastruktur (DTI) untuk Papua dan Papua Barat selama 20 tahun terakhir atau 2002-2021 sebesar Rp138,65 trliun.

Jika dilihat dalam enam tahun terakhir, mayoritas dana otsus diberikan kepada Papua sebesar Rp47 triliun, sedang sisanya untuk Papua Barat sebesar Rp21,27 triliun.

Ani, panggilan akrabnya, merinci pemerintah pusat menyalurkan dana otsus untuk Papua pada 2015 sebesar Rp7,19 trililun, 2016 sebesar Rp7,38 triliun, 2017 sebesar Rp8,21 triliun, 2019 sebesar Rp8,67 triliun, dan 2020 sebesar Rp8 triliun.

Tentunya melihat angka-angka diatas bukan angka yang sedikit, Namun pemanfaatan Dana yang besar itu dalam membangun peningkatan SDM untuk OAP tentunya menjadi prioritas utama dari semua sektor pendidikan yang ada.

Kenyataannya dari Sektor Tenaga Kesehatan atau kedokteran untuk prioritas anak Papua selama ini dipertanyakan karena kenyataannya dari lulusan angkatan ke- XXXII Dokter Umum Universitas Cendrawasih pada tanggal 31 Maret 2021 yang dilantik terlihat dengan jelas bahwa kurang lebih 63 orang yang dilantik sebagai dokter umum itu terdapat OAP hanya beberapa orang saja.

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah Kemampuan daripada Anak Papua tidak sanggup untuk bersaing atau anak Papua tidak diperhatikan dengan baik oleh pemerintah provinsi dan pemerintah daerah masing-masing di Papua. Karena sebagaimana Tenaga Dokter sangat dibutuhkan di Papua untuk menjangkau daerah-daerah yang terisolir di pedalaman Papua.

Karena Dokter anak Papua sendiri itu penting untuk bisa dengan mudah menjangkau setiap pelosok Papua. Sekarang banyak elite Papua berlomba menyampaikan pendapat pro dan kontra terhadap kelanjutan Otsus Jilid II namun faktanya jurusan langka dan tentunya pembiayaan juga bukan sedikit itu sangat minim adanya anak asli Papua di dalam.

Semoga pemerintah benar-benar lakukan pemanfaatan dana itu agar SDM Papua yang menjadi prioritas harus diutamakan.

Editor : Mitha.

suaraped

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *