*BRUTALITAS DALAM PENANGANAN AKSI DEMONSTRASI DAMAI HINGGA MENGAKIBATKAN KORBAN JIWA’ FERIANUS ASSO MENINGGAL DUNIA AKIBAT TERTEMBAK APARAT MENGGUNAKAN PELURU TAJAM*

FOTO: FERIANUS ASSO, DITEMBAK OLEH APARAT SAAT DEMO MEMPERINGATI HARI ANTI RASISME DEKAI KABUPATEN YAHUKIMO.

PAPUA : Kami Dari Tim Advokasi Papua mengecam keras atas tindakan brutalitas aparat kepolisian dalam penanganan aksi Anti RASISME & Pembebasan Victor Yeimo Pada Bulan Agustus Senin (16/08/2021)

Ferianus Asso ditembak aparat menggunakan peluru tajam di Kompleks Ruko di Dekai, Kabupaten Yahukimo Papua, salah satu titik kumpul massa Aksi Hari Anti Rasisme dan Pembebasan Victor Yeimo. Dua peluru bersarang dalam tubuhnya.

Keseluruhan peristiwa ini memperlihatkan Aparat negara yang bertugas di Papua mengutamakan penggunaan kekuatan berlebihan (excessive use of force), termasuk kekerasan yang dilakukan anggota kepolisian menghadapi Massa aksi damai di Papua .

Peristiwa-peristiwa tersebut menambah panjang deretan peristiwa kekerasan Aparatur negara dalam menangani aksi demonstrasi damai aktivis Papua .Hari yang sama juga terjadi kekerasan di Jayapura dalam aksi massa memprotes Anti RASISME dan pembebasan Victor Yeimo Pada Agustus 2021. Dalam peristiwa tersebut, tercatat ratusan bentuk pelanggaran hak asasi manusia. Antara lain penangkapan dan penahanan sewenang-wenang, tindak kekerasan, hingga penggunaan kekuatan yang berlebihan dengan peluru Tajam, dan gas air mata. Akibatnya, tindakan ini menyebabkan warga masyarakat mengalami memar, luka robek, bocor di kepala, muka bengkak dan bahkan korban jiwa.

Peristiwa kekerasan dan penggunaan kekuatan berlebihan Aparatur negara di PAPUA terhadap aksi protes Anti RASISME dan Pembebasan Victor Yeimo adalah repetisi atas pola-pola brutalitas Aparatur negara pada peristiwa tersebut. Ini adalah sebuah kemunduran Demokrasi

Padahal berbagai hukum yang ada, baik Undang-Undang maupun peraturan internal Polri sudah mengatur dengan tegas bahwa anggota Polri dalam melaksanakan tugasnya wajib menjunjung tinggi hak asasi manusia. Bahkan saat menindak orang yang melanggar hukum, kepolisian tetap harus menghormati prinsip praduga tidak bersalah.

*KAMI DARI TIM ADVOKASI PAPUA* berpandangan bahwa kepolisian tidak dapat menggunakan alasan adanya provokasi atau peserta aksi yang terlebih dahulu melakukan kekerasan sebagai justifikasi melakukan Penembakan Terhadap *FERIANUS ASSO*

Aparat kepolisian dalam melaksanakan tugas pengamanan unjuk rasa
terikat pada prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia (HAM),
kebebasan berpendapat. Prinsip ini tercantum dalam Pasal 28E
ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Selanjutnya dalam konstitusi, hak menyampaikan pendapat juga dipertegas dalam
Pasal 25 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, bahwa
“setiap orang berhak untuk menyampaikan pendapat di muka umum, Kebebasan menyampaikan pendapat secara khusus diatur juga dalam Undang-
Undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat
Di Muka Umum. Dalam Pasal 2 ayat (1) disebutkan bahwa “setiap warga
negara, secara perorangan atau kelompok, bebas menyampaikan pendapat
sebagai perwujudan hak dan tanggung jawab berdemokrasi dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara”.

Aparat dalam mengamankan unjuk rasa juga harus memperhatikan
Ketentuan Berperilaku bagi Petugas Penegak Hukum PBB yang diadopsi
oleh Resolusi Majelis Umum 34/168 tanggal 17 Desember 1979. Ketentuan
Berperilaku bagi Petugas Penegak Hukum

_*Pertama, penggunaan kekuatan berlebihan berupa kekerasan terhadap peserta aksi Hingga mengakibatkan Korban Jiwa ‘FERIANUS ASSO MENINGGAL DUNIA AKIBAT DITEMBAK MENGGUNAKAN PELURU TAJAM oleh Aparat Menurut Pasal 5 Perkap Nomor 1 Tahun 2009, tujuan penggunaan kekuatan dalam tindak kepolisian ialah untuk mencegah, menghambat dan menghentikan tindakan yang diduga melakukan perbuatan melanggar hukum. Tetapi yang terjadi sebaliknya, anggota Polri justru menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk menembak Mati massa Aksi.*_

_*Kedua, pembubaran massa aksi tidak sesuai dengan prinsip dan tahap-tahap penggunaan kekuatan. Masih menurut Perkap Nomor 1 Tahun 2009, dalam menggunakan kekuatan anggota Polri haruslah mengedepankan prinsip proporsionalitas yang berarti penggunaan kekuatan harus dilaksanakan secara seimbang antara ancaman dan tingkat kekuatan yang ada.*_

_*Ketiga, penangkapan sewenang-wenang. Baik sebelum ataupun setelah aksi demontrasi terjadi, seringkali anggota Polri melakukan perburuan dan menangkap secara sewenang-wenang para massa aski aktivis Papua dengan dalih “pengamanan” padahal menurut Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) tidak dikenal istilah pengamanan, yang ada ialah penangkapan. Alasan pengamanan ini, merupakan tipu daya Polisi untuk tidak menjalankan kewajibannya memenuhi syarat administratif dalam melakukan penangkapan. Perbuatan Polisi ini merupakan pelanggaran serius terhadap kemerdekaan seseorang.*_

_*Keempat Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk segera menghentikan penggunaan kekuatan yang tidak perlu dan berlebihan oleh aparat, yang seringkali dilakukan secara brutal dan tidak manusiawi termasuk harus bertanggungjawab dan memproses hukum pelaku Penembakan yang telah menewaskan FERIANUS ASSO*_

_*Kelima mengevaluasi dan mengubah pendekatan (taktik) pengendalian massa agar sesuai dengan standar-standar hak asasi manusia yang berlaku, termasuk yang diatur dalam Peraturan Kapolri No. 16 tahun 2006 tentang Pengendalian Massa, No. 1 tahun 2009 tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian, serta No. 8 tahun 2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar Hak Asasi Manusia dalam Penyelenggaraan Tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia;*_

_*Menyikapi kasus Penembakan tersebut , Kami menyatakan Sikap:*_

*1. Mengecam Keras Aparat yang menggunakan senjata api menghadapi Massa demonstrasi damai di dekai Yahukimo Papua hingga mengakibatkan meninggal dunia atas nama FERIANUS ASSO ;*

*2. Mendesak Bapak Presiden Republik Indonesia Jokowi Dodo segera Tarik Anggota TNI/POLRI dari Tanah Papua Personel tugas bawah kendali operasi (BKO) di Papua Membuat situasi Masyarakat Papua menjadi tidak nyaman.*

*3. Mendesak kepada Bapak Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si. Selaku Kapolri untuk segera memproses pelaku Penembakan secara hukum terhadap Anggota Polisi pelaku Penembakan (Korban) atas nama FERIANUS ASSO.*

*4. Papua agar menindak tegas menjatuhkan hukuman terhadap anggota Polisi yang mengamankan massa Aksi damai Senin 16 Agustus 2021*

Demikian Press Release ini dibuat, semoga dapat dipergunakan sebagaimana mestinya. Atas perhatiannya disampaikan terima kasih.

*HORMAT KAMI*
*TIM ADVOKASI PAPUA*

*Michael Himan.,S.H.M.H*

Kontak ; 082234750472

Editor: N.Y

suaraped

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *