INTELEKTUAL HARUS MENJADI MOTOR PENGERAK DALAM MEMBERIKAN PENDIDIKAN POLITIK KEPADA MASYARAKAT.

Sebuah Catatan Hasil Pengamatan Oleh : Nelly Yoman, SH., 

Suara Peduli : Dalam Dunia yang semakin maju dan canggih hari ini kita dituntut untuk berubah dan bisa beradaptasi dengan kehidupan sesuai zaman hari ini. Khusus untuk kami orang papua terlebih khusus catatan ini menyoroti tentang dinamika kehidupan kabupaten puncak jaya yang dinilai belum dewasa dalam menghadapi tantangan global.

Intelektual Puncak Jaya dituntut berpikir maju agar bisa memberikan dampak positif dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan pengetahuan yang dimiliki menjadikan landasan untuk mensosialisasikan kepada masyarakat dan juga membina ataupun memberikan pemahaman yang benar dengan demikian dampak perubahan itu bisa berdampak positif.

Dan tentunya saat ini kami melihat akar daripada setiap persoalan yang terjadi di daerah tidak disebabkan oleh masyarakat, tetapi aktor-aktor yang menyebabkan masalah itu adalah intelektual itu sendiri. Mestinya intelektual sebagai seorang terpelajar harus menjadi motor pengerak perubahan lepas dari semua kepentingan personal ataupun kelompok.

Dampak yang sangat nyata adalah pendidikan politik tidak sehat yang dibangun dalam masyarakat, hal ini sangat merugikan masyarakat dan juga intelektual maupun SDM yang ada di daerah tersebut. Perlu secara total merubah mainset berpikir intelektual agar bisa merubah kembali cara yang lebih baik untuk menjelaskan pendidikan politik dalam masyarakat.
Yang sangat aneh terjadi saat ini bermula semenjak anak daerah terlibat dalam perpolitikan tanah air khususnya puncak Jaya. Semua bisa dibenarkan walaupun sudah mengetahui bahwa itu jalan yang salah. Kepentingan diutamakan dan tidak mempertimbangkan dampak yang akan terjadi. Sehingga intelektual sendiri membangun issu negatif kedalam masyarakat sehingga masyarakat yang kurang berpendidikan menganggap itu benar dan mengikuti harus.

Hal-hal ini menyebabkan konflik dalam masyarakat dan yang menjadi korban adalah masyarakat itu sendiri bukan para aktor-aktor yang selama ini mengupayakan kepentingan kelompok dengan pengaruh- pengaruh dalam masyarakat. Tentunya hal ini menyebabkan kerugian dalam banyak hal yaitu, Korban jiwa, Harta benda, dan juga menimbulkan permusuhan antara kelompok masyarakat yang sebelumnya hidup berdampingan menjadi bermusuhan, mewarisi dendam-dendam tersebut membawa keadat yang akan mengakibatkan kerugian besar dalam pertumbuhan sumber daya manusia (SDM) puncak Jaya itu sendiri.

Mari kita memakai kacamata agar bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di sekeliling kita, apakah semua yang terjadi itu secara kebetulan atau karena ada faktor-faktor tertentu yang mempengaruhi sehingga penomena itu terjadi di kalangan intelektual puncak Jaya. Saya kwatir semua ini terjadi disebabkan karena ada sesuatu.
Barangkali sebelum kami menuju ke tahun 2024 harus mengevaluasi total, dikhawatirkan cara lama masih dipakai dan akan menyebabkan masalah yang lebih besar. Jangan kita bermegah diatas darah dan penderitaan tapi bagaimana kita berpikir untuk memutuskan rantai yang sudah berkarat ini bersama agar kedepan kita sama-sama ciptakan pendidikan politik yang baik di masyarakat.

Saya berharap Pemuda dan intelektual harus bisa memahami dengan baik persoalan dan bersepakat untuk membangun hal yang benar di dalam masyarakat, harus di mulai dari keluarga ke keluarga. Karena penomena terjadi saat ini tidak pernah terjadi dahulu, ada apa dengan puncak Jaya mari semua komponen harus bersatu untuk memberikan setiap ruang pada tempatnya, ego dan ambisi dibelakanggi, karena semua konflik, kehancuran dan permusuhan tercipta karena kita mengutamakan ego pribadi maupun kepentingan- kepentingan tertentu. 

Dimana setiap peristiwa terjadi harus diambil hikmahnya, oleh sebab itu kita belajar dari peristiwa kemarin untuk melangkah kedepan yang lebih baik.  

Mari setiap persoalan kita bicara pada tempatnya sebagai seorang intelektual, berpikir secara intelektual, menyelesaikan secara intelektual agar hal-hal buruk tidak terjadi kedepannya, sebab dampak dari  tidak kepedulian kita akan merugikan kami sendiri dan daerah yang kami cintai. 

Jayapura, 17 Februari 2022.

Editor:
Abendak.

suaraped

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer