“SAATNYA MERUBAH ARAH PANDANG MATA HATI PIKIRAN ORANG PAPUA”

NKRI bersama para sekutunya TIDAK MAU bangsa Papua bagian Barat lepas merdeka dari Indonesia. Mengapa? Karena kepentingan mereka di tanah Papua adalah ekonomi. Karena itu hingga sampai hari ini banyak negara negara dunia bersekutu dengan Negara Indonesia mempertahankan Papua dalam bingkai NKRI.

Ketika aspirasi politik Papua meningkat sejak 1998, Amerika Serikat bersama Uni Eropa mendekati Negara Indonesia untuk memberlakukan UU OTSUS. Sehingga 21 Oktober 2001 UU OTSUS Papua diberlakukan. Atas dukungan para sekutunya, kini UU OTSUS Papua diperpanjang lagi sejak 15 Juli 2021 di mana perubahan UU OTSUS itu akan diberlakukan pada 21 Oktober 2021. Para sekutunya, ada yang bersedia menjadi pendonor dana Otsus Papua. Negara negara yang menjadi pendonor dana Otsus adalah negara negara yang memiliki perusahaan tambang di Tanah Papua. Donor berupa dana yang mereka berikan itu adalah remah remah dari hasil eksploitasi Sumber Daya Alam di Tanah Papua. Donor dana Otsus yang mereka berikan itu bukan karena belas kasih atau dukungan solidaritas. Tetapi pemberian itu bertujuan untuk mempertahankan dan meningkatkan hubungan kerja sama NKRI bersama para sekutunya.

KARENA itu bangsa Papua JANGAN HARAP KEMERDEKAAN BANGSA PAPUA akan di bawa datang dari bangsa bangsa kulit putih dan bangsa lain yang sedang bekerja sama dengan Negara Indonesia. Tentu kita memberi apresiasi kepada masyarakat Internasional yang secara person dan kelompok yang selama ini mendukung gerakan pembebasan bangsa Papua. Dukungan dari masyarakat Internasional, baik person maupun kelompok itu terdorong atas dasar panggilan kemanusiaan. Berbeda dengan dukungan dari institusi Negara. Dukungan yang datang atas nama negara, bukan karena panggilan kemanusiaan, tetapi itu terdorong karena panggilan kepentingan tertentu, yaitu kepentingan kerjasama di bidang ekonomi, politik dan keamanan, serta bidang lainnya.

Bangsa Papua bagian Barat selama ini mengharapkan belas kasih dari Negara negara di dunia, tetapi belas kasih tak kunjung tiba hingga saat ini. Bukankah bangsa Papua bagian Barat adalah korban dari negara negara sekutu dari Indonesia yang berambisi besar menguasai dan merampok Sumber Daya Alam di Tanah Papua? Dahulu kita menjadi korban kepentingan ekonomi, politik dan pertahanan keamanan. Hingga kini bangsa Papua bagian Barat terus menjadi korban karena kepentingan ekonomi, politik dan pertahanan keamanan NKRI dan para sekutunya.

Mulai saat ini, bangsa Papua bagian Barat harus merubah pola pandang. Yang selama ini kebanyakan mata hati pikiran Papua tertuju ke arah Barat, harus dirubah dan mengalihkan pandangan mata hati pikiran kita ke arah atas (kepada Tuhan Allah). Pertolongan Tuhan itu datang indah pada waktu-Nya. Dahulu (tahun 1960-an) hingga kini dunia menggenggam Papua dalam bingkai NKRI, tetapi mereka tidak akan mungkin menggenggam Papua untuk selamanya. Karena masa depan bangsa Papua berada dalam rencana Allah. Tak ada yang mustahil bagi Tuhan.

Mulai saat ini, mari kita merubah cara berpikir kita, merubah mental menunggu belas kasih dari dunia barat atau bangsa lain. Mari kita mengarahkan pandangan mata hati pikiran kita ke arah atas (kepada Allah). Bukankah penyelenggaraan alam raya ini berada dalam penyelenggaraan Tuhan Allah?

Sekarang kita sudah menemukan JALAN yang dikehendaki oleh Tuhan. Yaitu pemulihan kembali kemerdekaan bangsa Papua, 1 Desember 1961. Pintu Rahmat dari Tuhan sudah dibuka melalui Deklarasi Pemulihan Bangsa Papua Lahir Baru Dalam Tuhan pada 1 Desember 2020 jam 12 siang di Aula Asrama Tunas Harapan – Padang Bulan – Abepura – Jayapura – Papua oleh JDRP2. Tidak ada pintu lain, kecuali pintu rahmat yang Tuhan sudah buka itu. Mari kita bersatu dalam kehendak Tuhan melalui pintu rahmat yang sudah dibuka oleh Tuhan untuk menuju Tanah Suci Papua.

Tuhan hendak memulihkan bangsa Papua dari pulau Misol sampai Samarai, sehingga pada Minggu 8 Agustus 2021, kita diminta oleh Tuhan melalui utusan-Nya untuk mensukseskan doa puasa 40 hari 40 malam serentak Papua Barat dan PNG. Setelah kami mengeluarkan Panduan Doa Puasa pada pagi 16 Agustus 2021, sore harinya Negara Indonesia melalui kominfo bekerja sama dengan komunitas face book memblokir akun saya (face book dan mesengger). Rupanya DOA PUASA 40 HARI 40 MALAM SERENTAK PAPUA BARAT dan PNG PALING DITAKUTI OLEH NKRI BESERTA SEKUTUNYA.

Pemblokiran akun face book dan mesengger ini bukan kali ini saja. Setelah tanggal 26 Maret 2021 JDRP2 mengumumkan doa puasa 40 hari 40 malam serentak, Negara Indonesia melalui kementrian kominfo bekerja sama dengan komunitas face book pernah memblokir akun saya (face book dan mesengger) pada 12 April 2021. Pemblokiran itu dilakukan pada saat seruan doa puasa tersebar luas di media face book, mesengger dan WA.

Pemilik komunitas face book adalah Mark Zuckerberg USA. Mereka globalist capitalist (kapatalis global) yang ada dalam jaringan Bill Gates dan lain lain yang punya kekuatan corporate dari Inggris.

Negara Indonesia sedang bekerja keras dengan para kapitalis global untuk menggenggam Papua, tetapi mereka tidak akan mampu menunda rencana Tuhan. Kemerdekaan bangsa Papua tertunda bukan karena kehendak bangsa Papua, bukan juga kehendak Belanda, Amerika Serikat dan Indonesia, tetapi itu tertunda atas kehendak Allah. Karena Tuhan punya rencana yang indah buat bangsa Papua menjelang akhir zaman. Sekarang Tuhan hendak memulihkan bangsa Papua, baik Papua Barat dan PNG. Untuk itu, Tuhan sedang memberi kesempatan kepada orang Papua untuk bertobat dari salah dosa, berdamai dan bersatu di dalam kehendak Tuhan. Marilah kita mempersiapkan diri doa puasa 40 hari 40 malam serentak Papua Barat dan PNG. Waktu pelaksanaan Doa Puasa serentak itu akan diumumkan oleh JDPR2 setelah koordinasi dengan berbagai komponen bangsa Papua, baik Papua Barat dan PNG.

Atas pertolongan Tuhan, PAPUA PASTI BISA.

Jayapura: Sabtu, 21 Agustus 2021

Oleh: Selpius Bobii (Koordinator Jaringan Doa Rekonsiliasi untuk Pemulihan Papua, JDRP2)

Editor: N.Y.

suaraped

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *